Cerita berakhir..

Published 3 July 2012 by manik0ask

Seorang Ayah bercerita tentang hidupnya. Bercerita bagaimana bisa bertemu dengan Ibu dari anak-anaknya. Bercerita bagaimana kondisi istrinya, sehingga memaksanya untuk pergi meninggalkannya. Yaa.. meninggalkannya secara implisit. Dan merengkuh wanita lain untuk menjadi ibu dari anak-anaknya. Anak-anak semakin dewasa, semakin mengenal keadaan, semakin mengenal ibu dan ayah mereka.

Anak-anak mulai mencari tau tentang ibu mereka, penyebabnya. Yaa.. mereka mendapatkan ceritanya, banyak versi memang. Memang tak bisa semua perkataannya orang-orang bisa langsung dipercayai begitu saja. Andai saja sang Ibu bisa bercerita, mungkin akan jelas. Sebagai anak, mereka tetap menghormati ibu dan ayah mereka. Hingga suatu saat, ketika sang anak memutuskan ingin menikah.

Yaaa.. Sang anak akan menikah. Ketika itu, sang ayah masih menceritakan bagaimana kisahnya bertemu dengan sang ibu. Bagaimana perjuangannya sampai bisa menyekolahkan anak-anaknya dengan kondisi ‘tanpa ibu’. Bercerita romantisme sebuah percintaan antara dua manusia kala itu.
Sang anak hanya bisa mendengarkan dan tidak banyak berkomentar.
Sang anak segan dan sungkan terhadap ayah mereka, jadi lebih baik tetap diam, tanpa bertanya macam-macam.

Namun, suatu saat, ketika sang ayah mengetahui calon suami anaknya, sang ayah sedikit ragu. Masih belum berani menyerahkan anaknya kepada sang calon menantunya. Sang anak pun tau kalau sang ayah kurang setuju, dan mulailah berkecamuk di dadanya pertanyaan-pertanyaan yang muncul tentang ayah, ibu, dan kisah cinta mereka.

Sang anak hanya bisa bertanya dengan dirinya sendiri dan bercerita dengan calon suaminya. Dia tak mau mengambil resiko untuk bertanya lebih lanjut kepada sang ayah, karena nanti pasti akan semakin sulit untuk mendapatkan restu.

Sang calon suami hanya bisa mendengarkan keluh kesah dari sang anak. Sang anak mulai bercerita tentang keluarganya, tentang ibunya, tentang ayahnya, dan yang berhubungan dengan mereka.
Sang anak mulai bertanya,
“Pernikahan apa yang dijalani oleh ayah?”
“Apakah benar sang ayah mencintai ibu? Jika benar mencintai mengapa, harus pergi ‘meninggalkannya’ dan menikahi wanita lain? Walaupun tak ada kata cerai yang terungkap”
“Jika memang mencintai ibu, bukankah harusnya ayah menjaga ibu? Bukan malah ‘meninggalkannnya’.”
“Berhakkah dia melarang saya untuk menikahimu, hanya karena alasannya? Tau darimana kalo pernikahan ini tidak akan berhasil dan bertahan lama? Toh, dia sendiri juga tidak berhasil mempertahankan ibuku.”
“Saya tau dia menyayangi saja, namun itu tak berhasil. Saya tak bisa disayangi hanya dengan diberi materi. Saya lebih menyayangi ibu saya, yang walaupun belum pernah mengasuh saya karena kondisinya itu.”
“Berlebihankah saya, jika saya hanya meminta restu untuk pernikahan ini? Toh seperti yg dia tau, pernikahan itu tak hanya mengejar kebahagiaan materi. Saya juga butuh kebahagiaan kasih sayang seseorang.”
“Saya sepertinya memang tidak pantas untuk berdebat dengannya, dan mempermasalahkan arti pernikahannya dengannya. Karena toh saya tidak berpengalaman dalam berumahtangga, dan saya menganggap kalau dia juga tak berhasil mempertahankan pernikahannya dengan ibuku.”
“That’s the point.”
“No conclusion.”

Cerita berakhir..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: