Kalau lagi di jalan

Published 16 March 2012 by manik0ask

Kadang aku sebel liat pengamen atau pengemis di dalam bis kota
Kadang sebel liat preman yang sok-sok an di dalam bis kota
Liat pengemis di tangga jembatan penyebrangan
Liat yang jualan di jembatan penyebrangan
Liat pedagang asongan di pinggir jalan

Emangnya mereka tidak bisa yah melakukan pekerjaan yang lebih baik?
Orang tua nya kemana yah kok anak-anaknya di biarin minta-minta dan ngamen dijalan?
Kalau emang ga mampu buat ngebiayain anaknya, ya jangan nikah dulu lah..
Kan kasian anak-anaknya di suruh kayak gitu.
Kalo dikasi duit, tar mereka nya malah jadi keterusan gitu, jadinya ga mau berusaha untuk kerja yang lebih baik..
Kalau ga dikasi duit, kasian juga liatnya..

Tapi, saya lebih setuju untuk tidak memberikan mereka uang. Bukan karena pelit, tapi dampak kedepannya buat mereka itu lho, malah tar dijadiin kebiasaan ngemis dijalan.
Saya bukan menjudge anak-anak yang ngemis di jalan, tapi salahkanlah orang tua mereka. Anak-anak itu titipan Tuhan, jadi ga pantes anak itu dijadikan obyek penghasilan.

Bagi orang tua yang tega menyuruh anak-anaknya untuk seperti itu, sungguh benar-benar kamu menyia-nyiakan karunia Allah.
Yang ada kamu sebagai orang tua, kerja dan brusaha lah semampunya, tapi tetap di jalan yang halal. Tak apa kok hanya sebagai tukang sapu dinas kebersihan, tak apa hanya sekedar kenek bis kota, tak apa kok hanya jadi kuli bangunan. Itu lebih barokah ketimbang menggunakan anak sebagai objek penghasilan.

Jangan pernah ke ibukota hanya untuk meminta-minta atau mengemis. Lebih baik tetap di kampung membajak sawah, daripada kerja sebagai pengemis.
Setiap orang sudah memiliki rejekinya masing-masing. Tapi tetap harus berusaha dan tidak memanfaatkan anaknya. Bukan malah sembunyi di balik tembok jembatan, ketika anak-anaknya mengemis di perempatan jalan.
Hhhhmmm…
Tidakkah mereka pernah berpikir dahulu ketika akan menikah dan akan mempunyai anak?
Tidak pernah berpikir mampukah mereka membiayai anaknya kelak?
Kalau segala sesuatu tidak direncanakan dengan matang, beginilah jadinya. Anak adalah korbannya.

Hanya sebuah unek-unek ketika melewati jembatan penyebrangan dan kolong jembatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: